Sejarah, Renovasi, & Kapasitas Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK)

Inggris punya Wembley Stadium, Brazil punya Maracana, dan Indonesia punya Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUBGK). Tak berlebihan rasanya jika SUGBK disamaratakan dengan stadion-stadion kelas internasional lain.

Bahkan hingga sekarang sepertinya belum ada stadion lain di Indonesia dengan fasilitas hingga fungsi seperti stadion ini. Tapi, tahukah kamu sejarah hingga perombakan atau renovasi stadion ini menjadi semegah yang kita kenal sekarang?

Sejarah Stadion Utama Gelora Bung Karno

Pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno dimulai pada tahun 1960 demi bisa menyelenggarakan ajang Asian Games jilid empat di tahun 1962. Alhasil, stadion selesai dan dibuka tepatnya pada 21 Juli 1962.

Namun tak hanya stadion saja yang kala itu dibangun. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno bersama pemerintahannya juga membangun kompleks Pusat Olahraga Senayan yang terdiri atas Stadion Utama, Istora, Stadion Renang, Stadion Ikada, Stadion Atletik dan Hoki, Gedung basket, Lapangan Voli, Lapangan Menembak, kemudian perkampungan perkampungan atlet.

Bantuan dari Uni Soviet

Yup, untuk bisa menyelesaikan seluruh pembangunan kompleks olahraga tersebut, Uni Soviet (sekarang Rusia) memberikan bantuan berkat hubungan baik dengan Indonesia.

Diperkirakan, dana sebesar 12,5 juta Dolar Amerika dipinjamkan kepada Indonesia di tahun 1958. Tak hanya itu, Soviet juga membantu dengan cara mengirimkan para arsitek kawakan di negaranya serta alat-alat berat agar proyek ini bisa selesai.

Cerita di Balik Penamaan SUGBK

10 Stadion Terbesar di Indonesia, SUGBK Masih Jadi No.1

Stadion yang tepatnya memiliki lokasi di Senayan, Jakarta Pusat ini pada saat diresmikan ternyata belum memiliki nama resmi, lho. Sampai akhirnya Bung Karno dan Menteri Dalam Negeri Dr Soemarno, Menteri Olahraga Maladi, Menteri Agama kala itu KH Saifuddin Zuhri, serta beberapa pejabat lainnya,  membahas hal ini di Istana Merdeka.

Mulanya, stadion yang berdiri di atas lahan seluas 225 hektare itu sepakat untuk diberi nama Pusat Olahraga Bung Karno. Akan tetapi, Menteri Agama kala itu, KH Saifuddin Zuhri menyanggah usulan tersebut.

Kiai Saifudin akhirnya mengusulkan untuk mengganti kata “Pusat” yang terkesan statis menjadi “Gelanggang”. Bung Karno seketika langsung menyetujuinya sehingga dinamakanlah Gelanggang Olag Raga (Gelora) Bung Karno.

Namun, tak berhenti sampai disitu saja. Nama Gelora Bung Karno sempat berubah menjadi Stadion Senayan pada masa kepemimpinan Soeharto di era Orde Baru (Orba) dengan alasan politis.

Akhirnya, nama stadion kembali lagi ke nama awal, yaitu Stadion Gelora Bung Karno ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih menjadi Presiden ke-4 RI secara demokratis pada tahun 1999.

Kapasitas Stadion Utama Gelora Bung Karno

jadwal liga 1 2021

Saat diresmikan tahun 1962, setiap pertandingan sepak bola di Gelora Bung Karno dapat disaksikan hingga 110 ribu penonton. Rekor penonton yang pernah tercatat di GBK adalah pada saat pertandingan antara Persib Bandung vs PSMS Medan dengan total 150 ribu suporter.

Jumlah kapasitas ini mengalami penurunan di tahun 2007 karena mendapat renovasi dalam rangka persiapan menyambut AFC Asian Cup menjadi 88,306 penonton.

Lalu, penurunan jumlah kapasitas kembali terjadi akibat renovasi berikutnya demi memenuhi standar FIFA dan lolos verifikasi untuk menjadi tuan rumah Asian Games dan Asian Para Games 2018.

Sekarang, semua tribun memiliki kursi individu dengan kapasitas 77,193.

Meski sudah dua kali mengalami pengurangan jumlah kapasitas, Stadion Utama Gelora Bung Karno tetap merupakan stadion terbesar di Indonesia, ke-8 di Asia dan ke-28 di dunia.

Ciri Khas SUGBK

Tak hanya itu kualitas tribun menjadi lebih baik, kursi baru dalam stadion diberikan warna merah, putih, dan abu menyerupai sang merah putih sedang berkibar.

Lampu penerangan juga semakin berkualitas beserta lampu RGB di bagian luar stadion yang dapat dilihat setiap hari oleh warga Jakarta. Perbaikan juga terus merambat hingga ke bagian akses dan parkir.

Selain menjadi kawasan yang sangat ideal untuk menghabiskan sore untuk olahraga atau sekedar jalan santai, Gelora Bung Karno memiliki keunikan salah satunya adalah desain stadion yang dikenal dan populer dengan nama Temu Gelang dari sang Presiden ke-1, Soekarno.

Presiden Soekarno meminta para arsitek Soviet untuk membuat atap temu gelang agar dapat melindungi seluruh tribun dari hujan dan terik matahari. Namun, ide bung Karno pada masa itu ternyata sempat dianggap tidak lazim karena saat itu stadion umumnya hanya diberi atap pada satu bagian saja.

Bung Karno tetap kukuh pada pendiriannya. Menurutnya dengan adanya atap temu gelang ini dapat memukau siapa saja yang melihatnya.

Alhasil, ide ini terbukti brilian dan membuat Stadion Utama Gelora Bung Karno jadi memiliki ciri khas sekaligus sangat megah.

Gelora Bung Karno, stadion dengan sejarah dan mengingatkan kita pada sosok yang membawa Indonesia merdeka. Siapa yang pernah nonton bola langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Pro?

Sekarang ini, Stadion Utama Gelora Bung Karno kerap menjadi kandang ketika tim nasional Indonesia menjamu tamu di laga internasional. Selain itu, klub asal Jakarta, Persija tercatat beberapa kali menggunakan stadion ini.

Selain untuk olahraga, GBK juga jadi destinasi wajib bagi para pelancong yang akan berkunjung ke Ibu Kota.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.